Sejarah dan Persebaran Kayu Jati di Indonesia

https://i0.wp.com/www.builder.id/wp-content/uploads/2019/09/harga-kayu-jati-perhutani.jpg?resize=600%2C351&ssl=1

Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, bisa tumbuh meraih tinggi 30-forty m Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia bersama dengan nama teak ( bhs Inggris ). Nama ini berasal berasal dari kata thekku (തേക്ക്) dalam bahasa Malayalam , bhs di negara anggota Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.

Jati dapat tumbuh di daerah bersama dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. 1 Tempat yang paling baik untuk perkembangan jati adalah tanah bersama pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri bersama dengan air. 2 Jati miliki daun berbentuk elips yang lebar dan mampu mencapai 30 – 60 cm selagi dewasa. 1

Jati punya pertumbuhan yang lambat bersama germinasi rendah (biasanya tidak cukup berasal dari 50%) yang memicu sistem propagasi secara alami jadi susah supaya tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. three Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan gunakan biji Akan tetapi memproduksi bibit dengan kuantitas besar dalam saat tertentu jadi terbatas gara-gara ada susunan luar biji yang keras. three Beberapa alternatif sudah dijalankan untuk mengatasi susunan ini layaknya merendam biji didalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta memberikan asam, basa, atau bakteri. 4 Akan tetapi alternatif selanjutnya masih belum optimum untuk menghasilkan jati didalam sementara yang cepat dan kuantitas yang banyak. 4

Umumnya, Jati yang tengah didalam proses pembibitan rentan pada lebih dari satu penyakit antara lain leaf spot illness yang disebabkan oleh Phomopsis sp., Colletotrichum gloeosporioides, Alternaria sp., dan Curvularia sp., leaf rust yang disebabkan oleh Olivea tectonea , dan powdery mildew yang disebabkan oleh Uncinula tectonae 5 Phomopsis sp. merupakan penginfeksi paling banyak, tercatat 95% bibit terkena infeksi terhadap th. 1993-1994. 5 Infeksi tersebut berjalan pada bibit yang berumur 2 – eight bulan. 5 Karakterisasi dari infeksi ini adalah ada necrosis berwarna coklat muda terhadap tepi daun yang lantas secara bertahap menyebar ke pelepah, infeksi lantas menyebar ke anggota atas daun, petiol , dan ujung batang yang sebabkan bagian daun dari batang tersebut mengalami kekeringan. 5 Jika tidak disadari dan tidak dikontrol, infeksi berasal dari Phomopsis sp. akan menyebar sampai ke seluruh bibit agar sistem penanaman jati tidak sanggup dilakukan. 5

Pohon jati (Tectona grandis sp.) bisa tumbuh meraksasa sepanjang ratusan th. bersama ketinggian forty-45 meter dan diameter 1,eight-2,four meter. Namun, pohon jati rata-rata menggapai ketinggian September 11 meter, bersama dengan diameter 0,9-1,5 meter.

Pohon jati yang diakui baik adalah pohon yang bergaris lingkar besar, berbatang lurus, dan sedikit cabangnya. Kayu jati paling baik umumnya berasal dari pohon yang berumur lebih daripada 80 tahun.

Daun umumnya besar, bulat telur terbalik, berhadapan, bersama tangkai yang terlalu pendek. Daun pada anakan pohon berukuran besar, kira-kira 60-70 cm × 80-a hundred cm; sedang pada pohon tua menyusut jadi sekitar 15 × 20 cm. Berbulu halus dan mempunyai rambut kelenjar di permukaan bawahnya. Daun yang muda berwarna kemerahan dan mengeluarkan getah berwarna merah darah andaikan diremas. Ranting yang muda berpenampang faktor empat, dan berbonggol di buku-bukunya.

Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × forty cm atau lebih besar, memuat ratusan kuntum bunga tersusun di dalam anak payung menggarpu dan terdapat di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, eight mm. Berumah satu.

Buah bersifat bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar bersama dengan inti tebal, berbiji 2-four, namun umumnya cuma satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil. Nilai Rf terhadap daun jati sendiri sebesar zero,fifty eight-zero,63.

Tectona grandis

Menurut sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang lantas menyebar ke Semenanjung India, Thailand, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli botani lain beranggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan Laos.

Sekitar 70% keperluan jati dunia terhadap waktu ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu dipasok oleh India , Thailand , Jawa , Srilangka , dan Vietnam Namun, pasokan dunia berasal dari hutan jati alami cuma satu berasal berasal dari Burma. Di Afrika dan Karibia juga banyak dipelihara.

Jati paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680), Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan Malaysia (1909).

Iklim yang sesuai adalah yang memiliki musim kering yang nyata, tapi tidak amat panjang, dengan curah hujan pada 1200-3000 mm pertahun dan bersama dengan intensitas sinar yang cukup tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimum adalah antara 0 – seven-hundred m dpl; meski jati mampu tumbuh hingga 1300 m dpl.

Tegakan jati sering keluar seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan cuma terdiri berasal dari satu type pohon.

Ini mampu berlangsung di tempat beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan gampang terjadi dan sebagian besar jenis pohon bakal mati pada pas itu. Tidak demikianlah bersama jati. Pohon jati terhitung spesies pionir yang tahan kebakaran sebab kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tidak tipis dan tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jikalau terbakar, lembaga biji jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati untuk muncul pada sementara musim hujan tiba.

Guguran daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat, sehingga menyusahkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu terhitung mendapat bahan bakar yang mampu mengakibatkan kebakaran -yang bisa dilewati oleh jati namun tidak oleh banyak style pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlampau besar justru menyebabkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong untuk berkecambah, pada sementara jenis-jenis pohon lain mati.

Tanah yang cocok adalah yang agak basa , dengan pH antara 6-eight, sarang (memiliki aerasi yang baik), punya kandungan cukup banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang air.

Pada era lalu, jati sempat diakui sebagai model asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu. Menurut T.Altona, penanaman jati yang pertama dikerjakan oleh orang hindu yang berkunjung ke Jawa. Sehingga terkesan, jati didatangkan oleh orang hindu atau negeri hindulah area asli berasal dari jati. Pendapat ini diperkuat oleh seorang ahli botani, Charceus yang menyatakan bahwa jati di Pulau Jawa berasal berasal dari India yang dibawa sejak th. 1500 SM sampai abad ke- 7 Masehi. Kontroversi ini lantas terjawab dengan penelitian marker genetik pakai teknik isoenzyme/pengujian variasi isozyme yang dikerjakan oleh Kertadikara pada tahun 1994. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa jati yang tumbuh di Indonesia (Jawa) merupakan model asli. Jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ). Jati ini mengalami mekanisme adaptasi khusus sesuai bersama dengan keadaan iklim dan edaphis yang berkembang puluhan hingga ratusan ribu tahun sejak zaman quarternary dan pleistocene di asia Tenggara. Karena nilai kayunya, jati kini juga dikembangkan di luar tempat penyebaran alaminya. Di Afrika tropis, Amerika tengah, Australia , Selandia Baru , Pasifik dan Taiwan

Di Indonesia sendiri, tak hanya di Jawa dan Muna , jati terhitung dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara

Dalam beberapa th. terakhir, tersedia upaya untuk mengembangkan jati di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati sehabis berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di ke dua area ini amat asam. Jati sendiri adalah tipe yang butuh zat kalsium didalam kuantitas besar, terhitung zat fosfor. Selain itu, jati perlu sinar matahari yang berlimpah.

Sekarang, di luar Jawa, kami sanggup mendapatkan hutan jati secara terbatas di lebih dari satu area di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau Buru. Jati berkembang terhitung di tempat Lampung di Pulau Sumatra.

Pada 1817, Raffles mencatat kalau hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya atau Sumatra atau pulau-pulau berdekatan. Jati cuma tumbuh subur di Jawa dan sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yakni Madura, Bali, dan Sumbawa. Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada selagi itu.

Heyne, terhadap 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walaupun hanya di sebagian titik di anggota timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sebetulnya terdapat pula di Pulau Kabaena, dan juga di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis DNA mutakhir membuktikan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang pertumbuhan jati jawa.

Jati yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada jaman 1960an dan 1970an. Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya kala ini tidak kalah dengan yang tersedia di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi 30 cm.

Sedini 1927, hutan jati tercatat banyak menyebar di Pegunungan Kapur Utara dan Pegunungan Kendengdan Gunung Muria , mulai berasal dari kabupaten Jepara hingga ke ujung timur Kabupaten Probolinggo Namun, hutan jati paling banyak menyebar di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yakni hingga ketinggian 650 mtr. di atas permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200 mtr. di atas permukaan laut.

Di ke dua provinsi ini, hutan jati kerap terbentuk secara alami akibat iklim muson yang menyebabkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di Jawa terpusat dan Terbesar di area Hutan Kabupaten Blora , Grobogan, dan Pati. Bahkan, jati jawa dengan kualitas paling baik dihasilkan di daerah tanah perkapuran Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

Saat ini, lebih dari satu besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan Perhutani meraih nyaris seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati Perhutani di Jawa capai sekitar 1,5 juta hektare. Ini hampir setara bersama setengah luas lahan hutan Perhutani atau kira-kira eleven% luas Pulau Jawa dwipa.

Kayu jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya. Secara teknis, kayu jati punya kelas kemampuan II dan kelas keawetan I-II. Kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap

Kayu teras jati berwarna coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal , di bagian luar, berwarna putih dan kelabu kekuningan.

Meskipun keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, agar disukai untuk mengakibatkan furnishings dan ukir-ukiran. Kayu yang diampelas halus punya permukaan yang licin dan layaknya berminyak. Pola-pola lingkaran th. terhadap kayu beranda nampak jelas, sehingga menghasilkan gambaran yang indah.

Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Oleh dikarenakan itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel inside, kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.

Sekalipun relatif ringan diolah, jati kondang sangat kuat dan awet, serta tidak gampang beralih wujud oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan termasuk sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan kapal perang. Tukang kayu di Eropa terhadap abad ke-19 konon meminta upah tambahan kalau wajib memproduksi jati. Ini sebab kayu jati sedemikian keras sampai bisa menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Handbook kelautan Inggris lebih-lebih menganjurkan untuk jauhi kapal jung Tiongkok yang terbuat berasal dari jati sebab bisa menyebabkan kerusakan baja kapal marinir Inggris terkecuali berbenturan.

Pada abad ke-17, tercatat jikalau penduduk Sulawesi Selatan gunakan akar jati sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk membuahkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mengkombinasikan tumbukan daun jati dengan asam jawa. Pada era itu, pengidap penyakit kolera pun direkomendasikan untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit.

Jati burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri, jati jawa jadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih kuat dibandingkan jati berasal dari tempat lain di negeri ini. Produk-produk ekspor yang disebut berbahan java teak (jati jawa, terutama berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur) terlampau populer dan diburu oleh para kolektor di luar negeri. untuk di jadikan funiture di antaranya kursi, meja, rak buku anak dan masih banyak lainnya

Read More